سْـــــــمِ أللَّهِ ألرَّحْمَنِ ألرَّحِيْ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bakat kepemimpinan itu sebenarnya tidak dilahirkan. Bakat tersebut muncul melalui keterampilan yang terus diasah dan ditumbuhkembangkan. Memang, ada pemimpin yang hanya fasih berbicara. Namun sebelum, kalau ia tidak memiliki ilmu, ia tidak sering berlatih, maka bisa jadi kata-katnya terpeleset pada kesalahan.
Seseorang dikatakan memiliki jiwa kepemimpinan, bila kita melihat kematangan pribadi dan karyanya. Ia memiliki visi yang sangat jauh kedepan. Ia mampu menggali dan mensinergikan potensi. Ia juga mampu memotivasi, baik lewat keteladanan, maupun kata-katanya yang arif. Ini semua didapatkan melalui latihan-latihan yang memakan cukup waktu lama.
Untuk tampil menjadi seorang pemimpin, kita perlu kesempatan merenungkan dan mempelajari lingkungan sekitar. Langkah awal yang kita lakukan adalah membaca potensi diri kita. Setelah potensi kita dapat terbaca, baru meluaskan pengaruh dengan melihat potensi dari luar kita sendiri.
Potensi-potensi ini, kalau tidak tebaca, suatu saat kelak akan tetap terpendam dan makin tidak tergali. Padahal setiap orang di sekitar kita mempunyai pengalaman dan mempunyai masa lalu.
Mereka yang pernah mengalami kegagalan di masa lalu, sesungguhnya merupakan aset yang berharga. Dengan bercermin dari kegagalan masa lampau, mereka akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Artinya, seorang pemimpin itu pada dasarnya adalah orang-orang yang selalu belajar dan terus mengembangkan kemampuannya.
Langkah kedua, dengan menanamkan program “bening hati’ pada diri kita. Kebahagian hidup dan kesuksesan hidup itu sebenarnya didirikan di atas pondasi kemuliaan akhlak. Semua ini diupayakan melalui pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan.
Langkah selanjutnya, yaitu dengan memelihara sistem kondusifsaat mengembangkan kedua langkah tadi. Lingkungan sekitar memberi pengaruh yang dominan bagi kita. Teman dan saudara dapat menjadi pendorong, pemberi semangat, memberi masukan dan kritikan saat kita berusaha bangkit dan berusaha menjadi lebih baik.
Akhirnya, yang keempat. Yang patut benar-benar kita perhatikan sesudah ketiganya terpenuhi ialah, membangun kekuatan diri dengan kekuatan ruhiyah. Dengan kekuatan ini, kita punya sandaran yang teguh, kokoh dan Maha kuat yaitu Allah AWT. Setiap ada kesulitan sekecil apapun, akan ringan kalau kita kembalikan kepada-Nya.
Dengan begitu, mudah-mudahan kita akan dibimbing-Nya untuk tahu bagaimana mendayahgunakan amanah yang kita tanggung. Semoga kita dapat membangun kebersamaan yang menumbuhkan kekuatan ruhiyah tersebut. Wallahu’alam bishowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar